Nasibmu Anak-Anak Zimbabwe

BBC News Thursday, 4 December 2008
Zimbabwe cholera 'an emergency'

Authorities in Zimbabwe have declared a cholera outbreak that has killed more than 550 people to be a national emergency, state media reports.
The UN says at least 565 people have died from the cholera outbreak, which began in August, though correspondents say the real death toll could be much higher.
At least 12,545 cases of cholera have been recorded over the same period.
Uaghhhh…. Selamat pagi kawan-kawan. Baru bangun neh. Gmana kabar kalian?
Pagi ini Daeng baca satu artikel yang langsung menyentuh rasa iba dalam diri ku. Rasa iba bercampur dengan rasa ngeri dan sedih (hikzzzz…). Setelah dunia dilanda krisis global yang entah sampai kapan akan berakhir, saat dunia kembali disibukkan dengan krisis lain yang menelan begitu banyak korban jiwa.
KOMPAS
Rabu, 10 Desember 2008 | 04:07 WIB

Roselyn Moyo tidak lagi memperbolehkan kedua anaknya bermain di luar rumah. Dia takut mereka akan terkena kolera saat berlarian di sepanjang jalan kota Harare, Zimbabwe, yang dijajari tumpukan sampah yang telah berbulan-bulan tidak diangkut.
”Anak-anak saya tidak lagi ke luar untuk bermain dengan teman-teman mereka,” kata ibu rumah tangga itu kepada AFP.
”Saya takut mereka bisa terkena kolera. Sampah menumpuk berserakan di seluruh kawasan kami dengan lalat beterbangan. Saya tidak bisa membiarkan anak-anak saya bermain di luar,” kata Moyo.
……………………………………………………………………………………………
Kolera telah mengambil korban hampir 600 jiwa di seluruh Zimbabwe sejak akhir Agustus. Dari 13.960 kasus yang tercatat, lebih dari 6.000 kasus teridentifikasi di Harare. Badan PBB untuk Anak-anak, Unicef, pekan lalu, memperingatkan bahwa dalam minggu-minggu mendatang kasus kolera itu bisa meningkat menjadi 60.000 yang bisa membuat jumlah korban tewas juga naik lima kali lipat.
Gila…gila… Kemarin baru aja Daeng nonton Film yang judulnya “Love in the time of Cholera”. Film yang mengangkat kisah seorang penyair sekaligus petugas pengirim telegram di Cartagena, Kolumbia, Florentino Ariza. Florentino jatuh cinta pada Fermina Daza yang sering dilihatnya lewat jendela rumahnya. Namun usahanya untuk mendapatkan cinta sejatinya mendapatkan halangan dari keluarga Fermina sehingga mereka dipisahkan. Tahun pun berlalu, Fermina kemudian menikah dengan Dr. Juvenal Urbino. Dr. Juvenal adalah orang yang berjasa besar pada Cartagena karena usahanya memerangi wabah kolera yang datang melanda Cartagena pada waktu itu. Cerita yang diangkat dari novel berjudul sama karangan penulis peraih Nobel Gabriel Garcia Marquez ini mengambil setting abad 19, tepatnya tahun 1879 dengan lokasi di kota Cartagena, Colombia, Amerika Selatan.

Dalam film ini Daeng melihat bagaimana penyakit kolera membunuh penduduk kota dalam waktu singkat. Sangat menakutkan. Daeng jadi penasaran seperti apa sih penyakit kolera itu. Setelah search di sana sini akhirnya Daeng temukan bahwa penyakit kolera (cholera) adalah penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri tersebut mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus sehingga terjadilah diare (diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya seseorang dalam waktu hanya beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada kondisi dehidrasi.

Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik. Meskipun sudah banyak penelitian bersekala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini tetap menjadi suatu tantangan bagi dunia kedokteran modern. Bakteri Vibrio cholerae berkembang biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya maka orang lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera itu juga.

Mengerikan bukan?
Yang menjadi beban pikiran Daeng adalah nasib anak-anak Zimbabwe saat ini. Seperti yang tertulis di berita, saat ini anak-anak Zimbabwe dilarang untuk bermain-main di luar rumah mereka. Lho kok jadi beban pikiran?

Sebagai orang yang masih mendalami bidang Psikologi, Daeng memahami bahwa kegiatan bermain sangat penting dalam perkembangan seorang anak. Lewat permainan, anak akan mengalami rasa bahagia. Dengan perasaan suka cita itulah syaraf/neuron di otak anak dengan cepat saling berkoneksi untuk membentuk satu memori baru. Itulah sebabnya mengapa anak-anak dengan mudah belajar sesuatu melalui permainan.

Para ahli Psikologi memberikan perhatian khusus pada kegiatan bermain anak. Bukan saja karena anak-anak identik dengan masa bermain. Di sisi lain, bermain memiliki banyak peranan bagi perkembangan anak-anak. Jenis bermain menurut Parten atau yang lebih dikenal sebagai Parten’s Classic Study of Play adalah :

Unoccupied play dimana anak terlihat tidak bermain seperti yang umumnya dipahami sebagai kegiatan bermain. Anak mungkin hanya berdiri di suatu sudut, melihat ke sekeliling ruangan, atau melakukan beberapa gerakan tanpa tujuan tertentu. Jenis bermain semacam ini hanya dilakukan oleh bayi. Jenis bermain ini belum menunjukkan minat anak pada aktivitas atau objek lainnya. Biasanya hanya dilakukan oleh bayi.

Solitary play dimana anak bermain sendiri dan tidak berhubungan dengan permainan teman-temannya. Anak-anak sepertinya asyik dengan aktivitasnya sendiri dan tidak tertarik tentang hal lain yang terjadi. Pada aktivitas ini anak menikmati aktivitasnya. Tentu saja, bermain di sini tidak selalu seperti aktivitas bermain yang dipahami oleh orang dewasa. Dimana anak merasa antusias dan senang melakukan aktivitas itu, itulah permainan anak. Mungkin anak hanya sekedar mengetuk-ngetukkan sendok ke piring, atau menggoyang-goyangkan tangannya. Pada tipe bermain ini, anak belum menunjukkan antusiasmenya kepada lingkungan sekitar, khususnya orang lain. Anak-anak usia bayi sampai 2 tahun sering melakukan permainan semacam ini dan cenderung menurun di masa-masa selanjutnya.

Onlooker play dimana anak melihat atau memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Anak-anak mungkin berbicara atau bertanya kepada temannya yang bermain namun tidak terlibat dalam permainan. Anak-anak mulai memperhatikan ketertarikan terhadap orang lain. Di sinilah anak mulai mengembangkan kemampuannya untuk memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari lingkungan. Anak sudah mulai tertarik dengan aktivits lain namun belum memutuskan untuk bergabung. Dalam tahapan ini, biasanya anak cenderung mempertimbangkan apakah Ia akan bergabung atau tidak.

Parrarel play dimana anak bermain terpisah dengan teman-temannya namun menggunakan mainan yang sama dengan temannya atau melakukan perilaku yang sama dengan temannya. Pada permainan ini, anak sudah berada dalam suatu kelompok, biasanya melakukan aktivitas yang serupa, bahkan mulai berbagi properti. Memang masing-masing anak masih bekerja sendiri sehingga belum ada satu tujuan yang ingin dicapai bersama. Tipe-tipe bermain seperti ini biasanya mulai dimainkan anak-anak di masa awal sekolah. Biasanya mereka mulai tertarik satu sama lain, namun belum merasa nyaman untuk bermain bersama.

Associative play dimana anak terlibat dalam interaksi sosial dengan sedikit atau tanpa pengaturan. Dalam tipe permainan ini anak sudah mulai melakukan interaksi yang intens dan bekerja sama. Sudah ada kesamaan tujuan yang ingin dicapai bersama namun biasanya belum ada pengaturan. Permainan ini akan mewarnai sebagian besar masa anak-anak prasekolah. Misalnya melakukan anak melakukan permainan kejar-kejaran, namun seringkali tidak tampak jelas siapa yang mengejar siapa.

Cooperative play meliputi interaksi sosial dalam kelompok dimana dapat ditemui identitas kelompok dan aktivitas yang teratur. Permainan ini banyak dimainkan oleh anak-anak pada masa sekolah dasar, namun dalam bentuk sederhana sudah dapat dimainkan oleh anak-anak taman kanak-kanak. Tipe permainan ini yang mendorong timbulnya kompetisi dan kerjasama anak. Tipe permainan ini juga mendominasi jenis-jenis permainan yang dilakukan oleh orang dewasa.
Padahal, jika semua orangtua tahu dan menyadari bahwa aktivitas gerak dan suara anak (bisa disebut bemain) adalah cara yang paling efektif untuk anak belajar sesuatu. Sebab, bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak.

Lalu bagaimana dengan anak-anak Zimbabwe saat ini, dalam masa-masa perkembangan dimana mereka sangat membutuhkan “bermain”, mereka harus terperangkap dalam suatu kondisi yang menakutkan. Wabah kolera setiap saat akan mengancam mereka tanpa ampun. Wah… Daeng ngeri membayangkan seorang anak mengalami kolera, pasti sangat menyakitkan bagi seusia mereka. Tapi Daeng juga bingung harus berbuat apa. Bagaimana kawan-kawan?
Share this article :

Ayo berlangganan Lowongan Pekerjaan - Peluang Kerja 2011! Silahkan daftarkan email anda untuk info Lowongan Kerja terupdate dari blog Lowongan Kerja, beasiswa dan peluang usaha ini.


3 Responses to "Nasibmu Anak-Anak Zimbabwe"

  1. hahahahahahhahaha...................

    "Love in the time of Cholera"

    TIDAKKKKKKKKKKKKK..............

  2. mungkin perlu digalakkan program internet masuk kampung Zimbabwe... agar anak-anak cukup main di rumah aj.... skalian belajar nge-blog
    :@

  3. :))Mantap kawan... wkwkwkwk

Leave a Reply

Silahkan memberikan komentar di blog Belajar Blog, Psikologi, Bisnis Online, Lowongan Pekerjaan. Kalau ada informasi lowongan pekerjaan atau info peluang usaha, jangan ragu untuk berbagi disini Page Lowongan Kerja on Facebook.
Thanks.

Blog Widget by LinkWithin